Hitung Harga Pokok Penjualan (HPP) makanan dan minuman berdasarkan bahan baku, yield produksi, tenaga kerja, kemasan, utilitas, overhead, dan biaya tambahan.
| Nama Bahan | Jumlah | Satuan | Harga Satuan | Waste (%) | Biaya | Aksi |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Rp0 |
Belum ada data perhitungan.
HPP atau Harga Pokok Penjualan dalam bisnis makanan dan minuman merupakan nilai biaya yang berkaitan dengan produk yang dihasilkan dan kemudian dijual kepada pelanggan. Dalam praktik usaha FnB, perhitungan HPP digunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang sebenarnya diperlukan untuk menghasilkan satu porsi, satu gelas, satu botol, satu pcs, atau satu unit produk.
HPP tidak selalu sama dengan biaya bahan baku. Biaya bahan baku memang merupakan komponen utama, tetapi proses produksi dapat melibatkan kemasan, tenaga kerja, gas, listrik, air, pengiriman bahan, overhead produksi, penyusutan, dan biaya lainnya.
Karena itu, menghitung HPP secara lebih lengkap dapat memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai biaya sebuah menu. Ini penting untuk menentukan harga jual, menghitung margin, mengevaluasi efisiensi produksi, dan mengetahui apakah sebuah menu benar-benar menguntungkan.
HPP, food cost, dan harga jual merupakan tiga istilah yang berkaitan tetapi tidak identik.
Food cost biasanya berfokus pada biaya bahan baku makanan dan minuman. Misalnya, sebuah gelas kopi membutuhkan kopi, susu, gula, es, dan bahan tambahan lain. Total biaya bahan tersebut merupakan dasar perhitungan food cost.
HPP dapat mencakup komponen biaya yang lebih luas. Selain bahan, HPP dapat memasukkan biaya tenaga kerja, kemasan, utilitas, overhead, dan biaya produksi lainnya sesuai metode akuntansi yang digunakan bisnis.
Harga jual adalah harga yang dibayarkan pelanggan. Harga jual harus berada di atas HPP apabila bisnis ingin mendapatkan laba dari produk tersebut, dengan catatan masih ada biaya penjualan lain yang perlu dipertimbangkan.
Biaya bahan baku merupakan komponen paling penting dalam bisnis FnB. Contohnya adalah beras, ayam, daging, ikan, sayuran, minyak, tepung, telur, susu, kopi, teh, gula, sirup, saus, bumbu, dan berbagai bahan lainnya.
Setiap bahan sebaiknya dihitung berdasarkan jumlah yang benar-benar digunakan dalam resep. Jika satu resep menggunakan 200 gram ayam, jangan memasukkan harga satu kilogram ayam sebagai biaya resep secara penuh. Biaya harus dialokasikan berdasarkan jumlah bahan yang digunakan.
Kemasan menjadi komponen penting terutama untuk bisnis takeaway, delivery, cloud kitchen, catering, dan bisnis minuman. Contohnya adalah cup, botol, tutup, paper bowl, kotak makanan, plastik, sendok, garpu, sedotan, stiker, dan kantong.
Tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi juga dapat dialokasikan ke dalam biaya produk. Misalnya seorang pekerja menghabiskan waktu untuk memasak satu batch produk yang menghasilkan 50 porsi.
Biaya tenaga kerja tersebut dapat dialokasikan ke 50 porsi agar diketahui biaya tenaga kerja per unit.
Proses memasak dan produksi membutuhkan utilitas. Kompor menggunakan gas, freezer dan kulkas menggunakan listrik, sementara pencucian bahan dan peralatan membutuhkan air.
Walaupun sulit menentukan biaya utilitas secara sangat presisi untuk setiap menu, estimasi alokasi per batch dapat digunakan untuk memperoleh perhitungan yang lebih realistis.
Overhead adalah biaya pendukung produksi yang tidak mudah diatribusikan langsung kepada satu bahan. Contohnya adalah perlengkapan kebersihan, penyusutan peralatan dapur, perawatan peralatan, perlengkapan kecil, dan biaya pendukung lainnya.
Secara sederhana, HPP dapat dihitung dengan menjumlahkan seluruh biaya produksi yang dialokasikan untuk menghasilkan produk.
Jika satu batch menghasilkan sejumlah unit produk, HPP per unit kemudian dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan jumlah produk jadi.
Jika total biaya bahan baku dalam satu batch adalah Rp500.000 dan menghasilkan 50 porsi, maka:
Food cost percentage menunjukkan perbandingan biaya bahan baku dengan harga jual.
Misalnya biaya bahan baku per porsi Rp10.000 dan harga jual Rp30.000:
Jika HPP telah diketahui, laba kotor per unit secara sederhana dapat dihitung dengan mengurangi harga jual dengan HPP.
Perhitungan laba bersih bisnis dapat berbeda karena masih dapat terdapat biaya pemasaran, administrasi, pajak, komisi platform, sewa, dan biaya lain yang berada di luar komponen HPP yang digunakan.
Margin menunjukkan persentase laba terhadap harga jual.
Misalkan sebuah usaha menjual Ayam Geprek. Dalam satu batch produksi dibuat 20 porsi.
Biaya bahan baku yang digunakan:
Total biaya bahan baku:
Kemudian terdapat biaya produksi tambahan:
Total biaya produksi:
Karena produksi menghasilkan 20 porsi:
Jadi HPP yang digunakan sebagai dasar dalam contoh ini adalah Rp22.500 per porsi.
Jika harga jual ditetapkan Rp35.000, maka laba kotor per porsi:
Margin terhadap harga jual:
Misalnya sebuah kedai menghasilkan 50 gelas Es Kopi Susu dalam satu batch.
Total biaya:
Dengan hasil produksi 50 gelas:
Jika dijual Rp25.000:
Margin:
Dalam bisnis makanan dan minuman, tidak semua bahan yang dibeli selalu berubah menjadi produk yang terjual. Sebagian bahan dapat rusak, menyusut, tercecer, salah produksi, atau tidak dapat digunakan.
Karena itu, waste dapat menyebabkan biaya aktual lebih tinggi dibandingkan perhitungan resep teoritis.
Misalnya biaya bahan Rp1.000.000 dan terdapat waste 5%:
Biaya bahan setelah memperhitungkan cadangan:
Yield menunjukkan jumlah produk jadi yang berhasil dihasilkan dari satu batch produksi. Yield sangat penting karena total biaya harus dialokasikan ke produk yang benar-benar dihasilkan.
Contohnya, biaya produksi Rp500.000. Jika menghasilkan 50 porsi, HPP adalah Rp10.000 per porsi. Namun jika ternyata hanya menghasilkan 40 porsi karena penyusutan atau kesalahan produksi, HPP berubah menjadi Rp12.500 per porsi.
Setelah perhitungan selesai, sistem akan menampilkan total biaya bahan baku, total biaya produksi, HPP per unit, biaya bahan per unit, biaya kemasan, biaya tenaga kerja, overhead, serta food cost.
HPP sebaiknya diperbarui ketika terdapat perubahan harga bahan baku yang signifikan. Misalnya harga ayam, daging, susu, kopi, minyak, tepung, telur, atau bahan utama lainnya mengalami kenaikan.
HPP juga perlu dievaluasi ketika ukuran porsi berubah, resep berubah, supplier berubah, harga kemasan naik, upah tenaga kerja berubah, atau efisiensi produksi mengalami perubahan.
Untuk bisnis FnB yang memiliki banyak menu, evaluasi HPP secara berkala membantu mengetahui menu mana yang memiliki biaya tinggi dan menu mana yang memberikan kontribusi margin lebih baik.
HPP makanan dan minuman adalah biaya yang digunakan sebagai dasar untuk mengetahui biaya produk yang dihasilkan. Komponennya dapat mencakup bahan baku dan biaya produksi lainnya sesuai metode perhitungan yang digunakan.
Tidak selalu. Food cost biasanya berfokus pada biaya bahan baku, sedangkan HPP dapat menggunakan komponen biaya yang lebih luas.
Untuk banyak bisnis FnB, biaya kemasan merupakan biaya langsung yang relevan dengan produk sehingga dapat dimasukkan dalam perhitungan HPP sesuai metode yang digunakan.
Perhitungan HPP sebaiknya diperbarui menggunakan harga bahan terbaru agar hasilnya tetap relevan.
Bisa. Kalkulator dapat digunakan untuk kopi, teh, jus, boba, milkshake, minuman botolan, dessert, makanan berat, snack, bakery, catering, dan berbagai produk FnB lainnya.
Tidak harus menggunakan istilah porsi. HPP dapat dihitung per gelas, cup, botol, pcs, pack, dus, atau satuan produk lainnya. Yang penting jumlah hasil produksi dan satuannya konsisten.
Jika tujuan perhitungan adalah memperoleh gambaran biaya produksi yang lebih lengkap, biaya tenaga kerja dapat dialokasikan ke dalam HPP.
Bisa. HPP dapat menjadi salah satu dasar dalam menentukan harga jual. Namun harga jual juga sebaiknya mempertimbangkan target margin, biaya penjualan, pajak, komisi platform, harga pasar, positioning produk, dan strategi bisnis.
Hasil kalkulator merupakan estimasi berdasarkan data yang dimasukkan. Semakin akurat data resep, harga bahan, yield produksi, waste, tenaga kerja, utilitas, dan overhead, semakin berguna pula hasil HPP yang diperoleh.
Dalam praktik bisnis, metode pencatatan HPP dapat berbeda sesuai kebutuhan usaha dan metode akuntansi yang digunakan. Untuk keperluan laporan keuangan formal, perpajakan, atau keputusan akuntansi yang bersifat material, hasil kalkulator sebaiknya disesuaikan dengan metode pencatatan bisnis dan arahan profesional yang kompeten.