Gunakan kalkulator risiko diabetes Costindo untuk mengetahui estimasi risiko prediabetes berdasarkan beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, BMI, riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, aktivitas fisik, dan diabetes gestasional.
Isi data berikut untuk mendapatkan skor skrining secara otomatis.
Risiko diabetes adalah kemungkinan seseorang mengalami gangguan metabolisme glukosa atau berkembang menjadi diabetes tipe 2 berdasarkan sejumlah faktor yang dimiliki. Faktor tersebut dapat berupa usia, berat badan, aktivitas fisik, riwayat keluarga, tekanan darah, dan kondisi kesehatan tertentu.
Kalkulator risiko diabetes dapat digunakan sebagai alat skrining awal untuk mengenali faktor-faktor tersebut. Hasilnya membantu seseorang memahami apakah ia memiliki faktor risiko yang cukup untuk mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kalkulator Costindo menggunakan sistem penilaian faktor risiko yang diadaptasi dari CDC Prediabetes Risk Test. Setiap faktor diberi sejumlah poin, kemudian seluruh poin dijumlahkan menjadi skor risiko.
Dalam sistem skrining tersebut, skor 5 atau lebih menunjukkan risiko yang lebih tinggi untuk memiliki prediabetes. Hasil ini tetap bukan diagnosis diabetes dan perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan medis.
Diabetes tipe 2 tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi makanan manis. Risiko terbentuk dari kombinasi berbagai faktor, termasuk berat badan, usia, aktivitas fisik, riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, serta riwayat diabetes gestasional.
Risiko diabetes tipe 2 cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Karena itu usia menjadi salah satu komponen dalam sistem skor kalkulator ini.
Seseorang yang mempunyai orang tua atau saudara kandung dengan diabetes mempunyai faktor risiko keluarga yang perlu diperhatikan.
Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat dimodifikasi. Aktivitas fisik secara teratur membantu mendukung pengelolaan berat badan dan kesehatan metabolik.
Riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi juga termasuk faktor yang diperhitungkan dalam skrining risiko diabetes.
BMI atau Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan. Nilai tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu komponen dalam penilaian risiko.
Sebagai contoh, seseorang mempunyai berat badan 75 kg dan tinggi badan 165 cm. Tinggi badan diubah menjadi 1,65 meter.
Nilai BMI kemudian digunakan dalam sistem skor berdasarkan ambang yang digunakan untuk populasi terkait.
| Faktor | Kondisi | Skor |
|---|---|---|
| Usia | Kurang dari 40 tahun | 0 |
| Usia | 40–49 tahun | 1 |
| Usia | 50–59 tahun | 2 |
| Usia | 60 tahun atau lebih | 3 |
| Jenis kelamin | Laki-laki | 1 |
| Jenis kelamin | Perempuan | 0 |
| Riwayat keluarga | Ada | 1 |
| Tekanan darah tinggi | Ada | 1 |
| Aktivitas fisik | Tidak aktif | 1 |
| Diabetes gestasional | Perempuan dengan riwayat kondisi tersebut | 1 |
Seorang pria berusia 45 tahun mempunyai tinggi badan 165 cm dan berat badan 75 kg. Ia memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, mempunyai tekanan darah tinggi, dan tidak melakukan aktivitas fisik secara rutin.
BMI dihitung sebagai berikut:
Dengan asumsi ambang non-Asia, BMI tersebut mendapatkan 1 poin. Usia 45 tahun mendapatkan 1 poin, jenis kelamin laki-laki 1 poin, riwayat keluarga 1 poin, tekanan darah tinggi 1 poin, dan tidak aktif secara fisik 1 poin.
Total 6 poin masuk kategori risiko tinggi berdasarkan ambang skrining yang digunakan dalam kalkulator ini.
Skor 0–4 berarti pengguna belum termasuk kategori risiko tinggi berdasarkan sistem skrining ini. Namun, skor rendah tidak berarti seseorang pasti bebas dari diabetes atau prediabetes.
Skor 5 atau lebih menunjukkan risiko tinggi berdasarkan skrining prediabetes. Hasil tersebut sebaiknya menjadi alasan untuk mempertimbangkan pemeriksaan gula darah dan evaluasi tenaga kesehatan.
Tidak. Kalkulator risiko diabetes bukan alat diagnosis. Skor tinggi hanya menunjukkan bahwa beberapa faktor risiko terdapat pada seseorang.
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami diabetes atau prediabetes, diperlukan pemeriksaan darah seperti HbA1c, gula darah puasa, atau pemeriksaan lain sesuai penilaian tenaga kesehatan.
Pertama, masukkan usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan berat badan. Pastikan satuan tinggi badan menggunakan sentimeter dan berat badan menggunakan kilogram.
Selanjutnya jawab pertanyaan mengenai riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, aktivitas fisik, dan diabetes gestasional jika relevan.
Jika ingin menggunakan ambang BMI untuk populasi Asia, aktifkan pilihan Gunakan ambang BMI untuk populasi Asia.
Setelah semua data terisi, klik tombol Hitung Risiko Diabetes. Kalkulator akan menampilkan total skor, BMI, kategori BMI, rincian poin, serta interpretasi hasil skrining.
Beberapa faktor risiko dapat diperbaiki melalui perubahan gaya hidup. Menjaga berat badan yang sehat, meningkatkan aktivitas fisik, menerapkan pola makan seimbang, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan metabolik.
Jika seseorang mempunyai banyak faktor risiko diabetes, perubahan gaya hidup sebaiknya dilakukan secara bertahap dan konsisten. Jika terdapat hasil pemeriksaan yang tidak normal, penanganannya perlu mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan.
Kalkulator Risiko Diabetes Costindo dapat digunakan sebagai alat skrining awal untuk mengenali beberapa faktor yang berkaitan dengan risiko prediabetes dan diabetes tipe 2.
Perhitungan mempertimbangkan usia, jenis kelamin, BMI, riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, aktivitas fisik, serta riwayat diabetes gestasional. Hasil skor bukan diagnosis sehingga tidak boleh digunakan untuk menggantikan pemeriksaan medis.
Jika hasil skrining menunjukkan risiko tinggi, pemeriksaan gula darah dan konsultasi dengan tenaga kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat untuk mengetahui kondisi sebenarnya.